Pembacaan Alkitab: Gal. 3:29; 2 Ptr. 1:4; Ibr. 10:23; Rm. 4:21
Alkitab adalah sejilid buku yang berisi janji-janji Allah terhadap umat-Nya. Namun Alkitab
bukan hanya berisi janji-janji Allah, tetapi juga berisi penggenapan dari janji-janji-Nya. Dari Alkitab
kita tahu bahwa Allah selalu menepati janji-janji-Nya. Penggenapan janji Allah menunjukkan
kesetiaan Allah. Allah tak pernah menarik kembali atau merubah janji-janji-Nya. Mazmur 89:35
mengatakan, “Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak
akan Kuubah.” Puji Tuhan! Di antara sekian banyak janji Allah di dalam Alkitab, ada satu janji yang
sangat besar, yang penggenapannya membuat segala bangsa diberkati. Janji apakah itu? Bagaimana
Allah menggenapinya? Bagaimana agar kita dapat menikmati penggenapan dari janji itu?
Kesetiaan Allah kepada kita ternyatakan melalui penggenapan janji-Nya kepada Abraham.
Galatia 3:29 mengatakan, “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah
keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” Saudara saudari terkasih, penggenapan janji
Allah kepada Abraham sangat berkaitan dengan kita hari ini, sebab di dalam iman, kita mewarisi janji
Allah. Dalam Alkitab, kita dapat melihat bahwa Allah menjanjikan setidaknya dua hal kepada
Abraham. Kejadian 12:7 mencatat “Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan
berfirman: ‘Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu.’ Maka didirikannya di situ
mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya.” Jadi, janji yang pertama adalah
berkaitan dengan tanah atau negeri; bahwa Allah akan memberikan tanah permai kepada Abraham
dan keturunannya. Kemudian Kejadian 22:17-18 mencatat, "Maka Aku akan memberkati engkau
berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti
pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah
semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku." Berkat
kedua ini berkaitan dengan keturunan; bahwa Allah akan menjadikan keturunan Abraham sangat
banyak dan oleh keturunannya semua bangsa di bumi akan mendapat berkat.
Untuk menggenapkan tujuan Allah, diperlukan dua hal: keturunan dan tanah. Keturunan, pertamatama
adalah Kristus yang individual (Gal. 3:16) dan kemudian Kristus yang korporat (1 Kor. 12:12),
tersusun dari Kristus sebagai Kepala dan seluruh kaum beriman-Nya (Gal. 3:29) sebagai Tubuh.
Tanah adalah Kristus sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit, yang di dalamnya kaum beriman
hidup (Ul. 8:7-10); tanah juga adalah gereja sebagai perluasan, penyebaran Kristus. Untuk memenuhi
tujuan Allah, kita perlu menerima anugerah Allah supaya Kristus dapat digarapkan ke dalam kita
sebagai keturunan dan diperhidupkan dari kita sebagai tanah untuk menjadi hidup gereja kita,
sehingga kita dapat menikmati perhentian Allah, mengalahkan musuh Allah, dan mendirikan Kerajaan
Allah dengan tempat tinggal-Nya untuk ekspresi-Nya dan perwakilan-Nya. Keturunan dan tanah itu
melambangkan Kristus yang almuhit dalam wujud Roh pemberi hayat sebagai berkat Injil. Puji
Tuhan, bahwa janji Allah kepada Abraham bagi kita hari ini telah menjadi suatu wasiat, sudah genap,
sehingga sekarang bisa kita nikmati dan alami.
Kesetiaan Allah dalam menggenapi janji-Nya dinyatakan di dalam Kristus. Kristus telah datang
untuk memenuhi semua tuntutan hukum Taurat oleh kematian-Nya yang almuhit sehingga semua
bangsa yang tadinya terpecah-belah dan berada di bawah kutuk kini menerima berkat yang dijanjikan
– yakni Roh itu (Rm. 10:4; Gal. 3:13-14). Tidak hanya itu, di dalam Kristus, kita adalah keturunan
Abraham, ahli-ahli waris menurut janji Allah (Kis. 2:39; Gal. 3:29). Sekarang, di pihak kita,
diperlukan iman. Jalan untuk menerima berkat yang dijanjikan itu adalah dengan iman. Di dalam
iman kita menikmati anugerah, yaitu Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh pemberi
hayat almuhit bagi kenikmatan kita (Gal. 3:14).
Dari gambar yang diperlihatkan kepada kita tentang penggenapan janji Allah kepada Abraham
yang pada akhirnya membuat berkat itu menjadi warisan kita, kita bisa melihat kesetiaan Allah. Allah
adalah setia, artinya, apa pun yang telah dijanjikan-Nya, akan Ia penuhi (Ibr. 10:23). Meliputi apa
sajakah kesetiaan-Nya? Saudara saudari terkasih, menurut kesetiaan-Nya, Ia akan meneguhkan kita
sampai kepada kesudahannya, membuat kita tak bercacat pada hari kedatangan Tuhan (1 Kor. 1:8).
Menurut kesetiaan-Nya pula, Ia telah memanggil kita ke dalam persekutuan, partisipasi dalam PutraNya,
dan Ia akan menjaga kita dalam partisipasi dan kenikmatan ini dalam kepenuhan-Nya (1 Kor.
1:9). Saudara saudari, Allah pun setia dalam firman-Nya (1 Yoh. 1:10), firman kebenaran Injil-Nya
(Ef. 1:13), yang memberi tahu kita bahwa Ia akan mengampuni kita dari dosa-dosa kita karena Kristus
(Kis. 10:43). Berkenaan dengan kehidupan kita, Allah dalam kesetiaan-Nya tidak akan membiarkan
pencobaan apa pun yang menimpa kita melampaui kekuatan kita, tetapi Ia selalu memberikan jalan
keluar kepada kita (1 Kor. 10:13). Terakhir, Allah yang setia yang telah memanggil kita akan
menguduskan kita seluruhnya dan memelihara seluruh diri kita dengan sempurna dengan tak bercacat
pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita (1 Tes. 5:23-24).
Mungkin Anda bertanya, bagaimana agar mengalami janji dan kesetian Allah itu? Pertama-tama,
konsepsi kita harus benar. Kita harus jelas bahwa janji-janji Allah kepada umat-Nya di dalam Alkitab
terutama ditujukan pada berkat yang rohani, bukan hal-hal yang bersifat materi dan bumiah (Ef. 1:3;
Gal. 3:14; 2 Ptr. 1:4). Di dalam Perjanjian Lama memang janji Allah berkaitan dengan hal-hal materi,
namun semuanya itu adalah bayangan dari berkat rohani yang akan Allah berikan kepada umat
Perjanjian Baru. Kedua, terhadap janji Allah, kita harus memiliki keyakinan bahwa Allah yang
menjanjikan itu layak dipercaya, dapat disandari, tidak lalai dalam menepati janji-Nya. Hanya Allah
yang dapat kita percayai, sebab Ia bukan hanya berjanji tetapi juga berkuasa untuk melaksanakan apa
yang telah Ia janjikan (Rm. 4:21; Yoh. 14:1).
Respon kita terhadap janji dan kesetiaan Allah adalah iman kita. Iman yang sejati adalah hanya
percaya firman Allah, tidak percaya pengalaman diri sendiri, tidak percaya perasaan diri sendiri, tidak
percaya lingkungan yang gelap. Hanya firman Allah yang benar! Kalau situasi dan pengalaman sesuai
dengan firman Allah, kita memuji dan bersyukur kepada Allah! Kalau situasi dan pengalaman tidak
sesuai dengan firman Allah, maka hanya firman Allah saja yang benar. Apa saja yang berlawanan
dengan firman Allah adalah palsu. Firman Allah itu murni, teguh, kukuh, tidak pernah berubah, dan
berkuasa (Mat. 5:18; Mzm. 12:7; 19:8-10; Luk. 1:37).
Puji Tuhan! Menurut kesetiaan-Nya, kita bisa menikmati semua kekayaan warisan janji-janji
Allah yang berharga dan yang sangat besar (2 Ptr. 1:4). Tujuannya adalah supaya pada akhirnya kita
berbagian dalam sifat Allah dengan segala unsur-unsur Allah. Semakin banyak kita berbagian dalam
sifat Allah, semakin banyak kekudusan, kasih, kebenaran, kebaikan, dan segala macam kebajikan
Allah tersusun di dalam kita, yang pada akhirnya akan diwujudkan dalam kemuliaan Allah. Haleluya!
Sumber :
http://pemulihan.or.id/Photo/blog/30_2_4-Photo.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar